Wednesday, September 16, 2009

Listrik Statik – Penyebab Hilangnya Data Seismik

Sebelum mambahas lebih jauh tentang listrik statik, saya ingin megingatkan kembali tentang pengertian listik statik. Dalam teori fisika, listrik statik adalah muatan yang bersifat diam atau bergerak tetapi dengan kecepatan yang sangat lambat. Dalam tulisan saya ini muatan yang dimaksud adalah elektron.

Di dalam dunia seismik, listrik statik yang sangat mengganggu adalah listrik statik yang dikandung oleh awan. Perbedaan potensial pada awan dapat terjadi karena dia bergerak terus menerus secara teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. Awan atau uap air dapat mengandung listrik statik karena awan dapat bermuatan positif atau negatif.

Listrik statik pada awan tersebut menjadi masalah karena apabila kita sedang melakukan perekaman data seismik pada cuaca yang sedang mendung maka sering terjadi transmit error. Apabila transmit error ini terjadi pada saat kita melakukan akuisisi data maka kita akan kehilangan sebagian atau bahkan seluruh data kita, hal ini yang biasa kita namakan dengan Line cut.

Sebenarnya listrik statik yang dikandung oleh awan tidak akan berbahaya bagi perekaman data seismic selama tidak terjadinya loncatan elektron akibat adanya perbedaan muatan pada awan tersebut. Loncatan elektron yang terjadi pada awan yang bermuatan kita sebut dengan petir. Selain terjadi antara awan dengan bumi, petir juga dapat terjadi antara awan yang memiliki beda potensial yang besar. Petir yang terjadi antara awan tersebut adalah petir intercloud.

Ketika terjadi pembuangan muatan negatif atau elektron dari awan bermuatan negatif ke awan bermuatan positif maka terjadi pergerakan elektron yang cukup banyak dengan kecepatan yang tinggi. Pergerakan elektron yang cepat ini menyebabkan timbulnya medan magnet. Medan magnet adalah suatu medan yang terbentuk karena adanya pergerakan muatan listrik, dalam kasus ini pergerakan muatan listrik tersebut adalah petir. Pergerakan muatan ini juga dapat kita analogikan pada sebuah kawat yang dialiri oleh arus listrik. Karena seperti kita ketahui arus adalah pergerakan elektron dari sisi bermuatan positif ke muatan negatif.


Apabila arus listrik mengalir melalui sepotong kawat, maka akan timbul suatu medan magnet (M) disekeliling kawat. Medan tersebut terorientasi menurut aturan tangan kanan. Semakin besar arus yang mengalir maka semakin besar medan magnet yang timbul. Arus yang mengalir dalam kawat dapat menghasilkan medan magnet karena arus terjadi karena adanya pergerakan elektron dalam kawat tersebut. Besarnya arus berbanding lurus dengan banyaknya elektron yang bergerak.

Kemudian pertanyaannya adalah bagaimana medan magnet yang ditimbulkan oleh petir tersebut dapat mempengaruhi kabel link sehingga menyebabkan line cut? Ketika kita sedang melakukan akuisisi data maka akan timbul arus pada kabel link, dan arus tersebut adalah berupa elektron–elektron yang mengalir. Apabila akuisisi data tersebut dibarengi dengan terjadinya petir intercloud, maka elektron-elektron yang berada pada kabel link akan terkena radiasi medan magnet dari petir tersebut. Dalam ilmu fisika, apabila sebuah elektron bergerak memotong medan magnet maka elektron tersebut akan mengalami sebuah gaya yang dimanakan dengan Gaya Lorentz.

F = Gaya Lorentz
q = muatan listrik
v = kecepatan gerak muatan listrik
θ = sudut antara lintasan elektron dengan B
B = medan magnet

Kabel link merupakan lintasan bagi elektron yang mengalir pada kabel tersebut. Sehingga θ merupakan sudut antara medan magnet yang dihasilkan oleh petir dengan lintasan kabel link. Medan magnet dari petir akan menimbulkan Gaya Lorentz pada elektron-elektron yang mengalir pada kabel link. Gaya Lorentz akan mengganggu aliran elektron pada kabel sehingga menyebabkan transmit error, hal ini yang akan menyebabkan kita kehilangan data. Gaya Lorentz yang dihasilkan mungkin saja sangat kecil sekali, tetapi dengan panjangnya lintasan kabel yang mencapai beberapa kilometer dan sensitifnya instrument kita, maka kemungkinan terjadinya line cut sangat besar. Terlebih lagi apabila jalannya petir intercloud sejajar dengan bentangan kabel kita.

Dari persamaan di atas maka dapat kita simpulkan bahwa kemungkinan petir dapat menyebabkan line cut akan semakin besar apabila jalannya petir tersebut sajajar dengan bentangan kabel link karena Gaya Lorentz yang dihasilkan semakin besar. Namun apabila jalannya petir dengan bentangan kabel link membentuk sudut 90°, maka sudut antara lintasan elektron pada kabel dengan medan magnet yang terbentuk karena petir akan membentuk sudut 0°, maka petir tersebut tidak akan mempengaruhi elektron dalam kabel sehingga tidak menyebabkan line cut karena sin 0° = 0. Berdasarkan teori ini pula twisted pair pada kabel FTP bekerja, yaitu untuk menghindari agar kabel tidak mendapatkan induksi dari kabel pasangannya. Pada kabel FTP kabel yang berpasangan dipuntir sehingga saling membentuk sudut 90° diantaranya.

Lalu bagaima caranya agar petir intercluod tersebut tidak menyebabkan line cut atau transmit error? Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana kita melindungi elektron yang mengalir dalam kabel link agar tidak terpengaruh medan magnet petir. Salah satu metode yang biasa digunakan untuk melindungi sesuatu dari medan magnet adalah dengan menggunakan sangkar Faraday. Sangkar Faraday atau tameng Faraday adalah sebuah ruang tertutup yang terbuat dari bahan-bahan penghantar listrik. Salah satu contoh sangkar Faraday yang sering kita alami adalah kita sering kali kehilangan sinyal handphone di dalam lift, hal tersebut terjadi karena lift yang terbuat dari logam membentuk sangkar Faraday. Dalam dunia seismik kita sudah menerapkan metode sangkar Faraday yaitu dalam mendisain kotak handak dimana kotak handak selalu dilapisi oleh seng alumunium sehingga dapat menghilangkan muatan statis yang dapat memicu meledaknya handak. Contoh sangkar Faraday yang lain adalah kabel koaksial. Kabel koaksial merupakan kabel data yang terbungkus oleh konduktor yang fleksibel yang berfungsi sebagai sangkar Faraday. Sayangnya kabel link yang kita miliki bukan merupakan kabel koaksial.

Sampai saat ini belum ada solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah listrik statik tersebut. Menurut saya solusi yang paling tepat adalah dengan mengubah disain kabel link sehingga tidak dapat ditembus oleh medan magnet seperti halnya pada kabel koaksial, tetapi tentu saja solusi ini menjadi sangat berat dilakukan oleh pabrikan.
Friday, January 16, 2009

Filtering

Filtering adalah upaya untuk 'menyelamatkan' frekuensi yang dikehendati dari gelombang seismik dan 'membuang' yang tidak dikehendaki. Terdapat beberapa macam filtering yaitu: band pass, low pass (high cut) dan high pass (low cut).

Di dalam pengolahan data seismik, band pass filter lebih umum digunakan karena biasanya gelombang seismik terkontaminasi noise frekuensi rendah (seperti ground roll) dan noise frekuensi tinggi (ambient noise).

Gambar di bawah ini menunjukkan ketiga jenis filtering baik dalam kawasan waktu (time domain) maupun frekuensi domain (frequency domain).


Tanda A, B, C, dan D, pada band pass filter merupakan frekuensi sudut (corner frekuency).

Saturday, January 10, 2009

Komponen Gelombang

Gambar di bawah menunjukkan komponen sebuah gelombang pada sebuah trace seismik: amplitudo, puncak, palung, zero crossing, tinggi dan panjang gelombang.


Thursday, January 8, 2009

Frekuensi Gelombang Seismik

Frekuensi gelombang seismik yang 'berguna' biasanya berada dalam rentang 10 sampai 70 Hz dengan frekuensi dominan sekitar 30Hz (Ozdogan Hilmaz).

Gambar berikut menunjukkan tipikal spektrum amplitudo gelombang seismik (trace ditunjukkan di sebelah kiri)


Terlihat rentang frekuensi gelombang seismik 10 - 70 Hz dengan frekuensi dominan 30 Hz, juga karakter spektrum amplitudo wavelet yang digunakan.
Wednesday, November 19, 2008

Fold Coverage

Fold coverage adalah jumlah pantulan yang mengenai suatu bidang pantul pada batuan. Semakin banyak jumlah pantulan sinyal pada suatu bidang, maka diharapkan semakin baik kualitas data yang dihasilkan.

Fold coverage ini penting pada saat proses stacking di data processing. Pada saat stacking diharapkan data yang dibawa oleh sinyal dapat diperkuat, sedangkan noise dapat dikurangi bahkan dapat saja dihilangkan.

Mesa membuat simulasi fold coverage berdasarkan posisi shot point dan trace teoritik, simulasi, dan aktual.

Ada banyak cara untuk menghitung fold. Namun ada sebuah rumus yang dapat dijadikan persamaan dasar penghitungan fold, yaitu:

Fold = NS*NC*b^2

Dimana:
NS = jumlah shot point per unit area
NC = jumlah channel aktif
b = dimensi bin

Sebagai contoh, misalnya kita memiliki 80 shot point per kilometer persegi dengan channel aktif 600, dan dimensi bin 25 m. Maka fold yang kita peroleh adalah:

Fold = 80/km^2 * 600 * (25m)^2 = 30

Ini adalah cara cepat untuk mengetahui apakah fold coverage yang kita inginkan sudah sesuai dengan parameter yang kita gunakan.
Tuesday, November 18, 2008

First Break

First break adalah gelombang seismik yang terekam pertama kali. Gelombang ini merupakan gelombang yang tercepat sampai ke penerima. Di dalam studi seismik refleksi, first break digunakan untuk koreksi statik.
Di dalam studi seismik tomografi, first break digunakan sebagai input waktu tempuh gelombang untuk mencitrakan anomali kecepatan gelombang seismik di bawah permukaan.

Monday, November 17, 2008

Metoda-metoda Geofisika

Secara umum, metode geofisika dibagi menjadi dua kategori yaitu metode aktif dan pasif. Metode pasif dilakukan dengan mengukur medan alami yang dipancarkan oleh bumi. Metode aktif dilakukan dengan membuat medan gangguan kemudian mengukur respons yang dilakukan oleh bumi. Medan alami yang dimaksud disini misalnya radiasi gelombang gempa bumi, medan gravitasi bumi, medan magnetik bumi, medan listrik dan elektromagnetik bumi serta radioaktifitas bumi. Medan buatan dapat berupa ledakan dinamit, pemberian arus listrik ke dalam tanah, pengiriman sinyal radar dan lain sebagainya.

Secara praktis, metode yang umum digunakan di dalam geofisika dapat dilihat dengan meng-klik tabel dibawah ini.


Survey seismik merupakan jenis metode geofisika aktif, karena dalam seismik kita menggunakan medan/sumber buatan berupa getaran. Sumber getaran buatan dalam seismik dapat dihasilkan oleh peledakan dinamit, air gun, atau vibrator.

Saturday, September 27, 2008

Sercel 428XL

428XL adalah generasi terbaru instrument perekaman data seismik keluaran Sercel, sebuah perusahaan asal Perancis yang memproduksi instrumen perekaman data seismik. 428XL adalah penyempurnaan dari generasi sebelumnya yaitu 408UL.

428XL memiliki konsumsi daya yang lebih kecil sehingga memiliki waktu operasi yang lebih lama dari 408UL. Pada 428XL juga tetap tersedia pilihan sensor dengan satu-komponen (1C) dan tiga-komponen (3C). Pada 428XL juga dilakukan beberapa perkembangan salah satunya adalah digunakannya arsitektur client/server sehingga sangat memungkinkan untuk mengoperasikannya dari lokasi yang jauh sekalipun.

Kabel 428XL lebih kecil dan lebih ringan sehingga memberikan efisiensi di lapangan. Waktu perekaman data juga dapat dipersingkat karena kabel 428XL dapat mengirim data pada kecepatan 16Mbps. Namun ketika digabungkan dengan 408UL, 428XL juga dapat diatur pada kecepatan 8Mbps. Pengaturan ini sangat membantu karena field instrument 408UL hanya dapat beroperasi pada kecepatan 8 Mbps. Sedangkan kabel transverse 428XL bekerja berdasarkan Ethernet protocol dengan kecepatan 100Mbps, hal ini memungkinkan untuk melakukan akuisisi data sebanyak 10.000 active channels dengan real-time, sampling rate 2 ms, hanya dengan menggunakan satu Crossing Unit (LAUX) pada setiap lintasan.

Kemampuan maksimum dari 428XL adalah 100.000 active channels, sampling rate 2 ms, dengan menggunakan 10 Line Control Interface (LCI). Masing-masing LCI untuk 10.000 active channels.

Features and Benefits:
1. Robust 400 Series design
2. More channels for the highest-possible resolution data
3. Greater electrical efficiency - longer battery life and less downtime
4. More layout capabilities to avoid obstacles in the field
5. A wider range of compatible software and hardware platforms.
6. The best ownership value in the industry
7. Significant weight savings
8. Scalable architecture
9. User-friendly and powerful software
10. Advanced QC & Maintenance tools

Spesifikasi 428XL
Wednesday, July 16, 2008

Post-processing

Proses yang dilakukan pada tahap post-processing meliputi:

1. Koreksi Residual Statik
Dalam flow ini akan dilakukan koreksi statik sisa, yang disebut residual statics correction. Input dari flow ini pada dasarnya adalah koreksi statik ketinggian dari source dan receiver yang telah dihasilkan sebelumnya dari subflow apply elevation statics di dalam flow refraction statics. Sebelum masuk ke residual statics, flow pengolahan data seismik masuk dulu ke trace display, agar dapat dilakukan static horizon picking yang nantinya akan digunakan sebagai time gate pada pengaplikasian koreksi statik sisa tersebut.
Static horizon picking dilakukan dengan membuat picks untuk satu ensemble traces pada suatu time, dimana pada time tersebut diperkirakan akan terdapat event seismik yang utama/dominan.

Setelah dilakukan picking autostatic horizon, kemudian hasil dari koreksi residual static ini diaplikasikan kembali ke data preprocessing untuk di hitung ulang nilai kecepatannya melalui analisa kecepatan tahap 2. Sehingga, setelah melalui tahapan proses ini diharapkan data-data yang dihasilkan benar-benar sudah terkoreksi secara benar dan menghasilkan penampang seismik yang benar-benar merepresentasikan keadaan bawah permukaan bumi dengan tepat. Adapun tampilan dari hasil residual static serta analisa kecepatan ke-2 ini dapat ditampilkan / di-display ke dalam display Final Stack.

2. Migrasi
Untuk mengkoreksi letak titik refleksi pada posisi sebenarnya maka digunakanlah metode migrasi. Dalam flow ini akan dilakukan serangkaian tahap untuk mengaplikasikan proses migrasi pada data, sehingga akan dihasilkan dataset terakhir dari pengolahan data seismik ini berupa data yang telah dimigrasi (migrated data). Algoritma migrasi yang akan diaplikasikan dapat dipilih sendiri oleh user, disesuaikan dengan kebutuhan dan treatment dari data yang bersangkutan. Dalam panduan ini, metode yang akan digunakan untuk migrasi adalah dengan menerapkan postack time migration menggunakan finite difference time migration dengan max dip 70 derajat. Pemilihan ini didasarkan pada hasil pemilihan atau try & error pemilihan parameter.
Sampai dengan tahap ini telah selesai dilakukan serangkaian tahap dalam melakukan pengolahan data seismik postack time migration untuk tahap dasar, yaitu dari pembacaan raw data seismik sampai dengan dihasilkannya data postack yang telah di migrasi.
Pada penampang postack hasil migrasi tersebut diatas, sangat terlihat adanya efek smile atau swing. Efek tersebut dapat disebabkan oleh adanya noise dominan yang belum dibersihkan secara optimal pada saat proses trace editing. Adanya hal tersebut sekaligus untuk menunjukkan kepada pembaca bahwa kurang optimalnya (atau bahkan kesalahan) dalam pengolahan data seismik di suatu tahap (atau flow) akan sangat mempengaruhi hasil pengolahan dari tahap lainnya, hingga pada akhirnya kesalahan-kesalahan itu akan terakumulasi pada hasil akhir pengolahan data seismik, yang dalam konteks ini adalah penampang postack hasil migrasi.
Sebagai tahapan akhir dari field processing, dilakukan suatu tahapan akhir berupa plotting, dimana plotting ini dilakukan sebagai alat untuk menampilkan hasil akhir data berupa penampang seismik dalam bentuk wiggle lengkap dengan attribut-atribut keterangan yang menyertainya.

Processing

Pada awalnya data seismik direkam dalam common-shot gather. Common-shot gather adalah sekumpulan trace yang mempunyai atau berasal dari satu source point yang sama. Karena pada umumnya pengolahan data seismik dilakukan pada domain common-midpoint (CMP), maka data common-shot gather tadi disusun dan di-sort ke bentuk CMP gather. CMP gather adalah sekumpulan trace yang memiliki titik tengah (midpoint) yang sama. Sebelum proses stacking, masing-masing CDP gather dikoreksi dari efek perbedaan jarak offset yang disebut Normal Move Out (NMO). Sebuah fungsi kecepatan yang disebut stacking velocity dibutuhkan dalam koreksi NMO. Stacking velocity didapat dari sebuah proses yang disebut velocity analysis.
Velocity Analysis adalah perhitungan dan penentuan fungsi kecepatan (stacking velocity) dari pengukuran fungsi velocity normal move out. Perhitungan dibuat dengan mengasumsikan fungsi kecepatan normal moveout (VNMO), menerapkannya ke CDP gather, mengukur koherensi pada fungsi VNMO tersebut, dan mengubah fungsi VNMO untuk mencari koherensi maksimal. Nilai-nilai koherensi ini diukur, dipetakan dan diberi skala warna untuk proses velocity picking. Nilai-nilai koherensi yang telah dikontur disebut juga dengan semblance.
Agar didapatkan nilai kecepatan yang tepat, maka picking velocity harus berdasarkan pada tampilan beberapa panel yang muncul ketika melakukan picking velocity seperti panel Semblance, panel CDP gather, panel Velocity Function Stack (VFS) dan panel Dynamic Function dimana keempat panel tersebut mempunyai fungsi masing-masing yang dapat mempengaruhi hasil pemilihan kecepatan.
Semblance panel menampilkan nilai-nilai koherensi dari berbagai trace dalam kontur skala warna sebagai fungsi waktu dan kecepatan. Warna kontur merah melambangkan nilai semblance maksimum, sehingga melambangkan juga fungsi kecepatan NMO yang paling tepat untuk mengkoreksi event seismik yang menghasilkan koherensi. Semblance panel digunakan untuk menentukan fungsi stacking velocity, dengan cara memilih nilai-nilai semblance yang paling tepat.
Gather panel juga digunakan dalam menentukan fungsi kecepatan. Gather panel menampilkan super gather dari sejumlah CDP yang telah ditentukan. Super gather didapat dari sejumlah CDP yang masing-masing tracenya di-stack secara common-offset, sehingga menghasilkan hanya satu CDP gather, yaitu super gather.
Panel yang menampilkan deret trace-trace dari beberapa CDP yang telah di-stack disebut panel Velocity Function Stack (VFS). Trace-trace ini dikoreksi untuk NMO dengan masing-masing menggunakan fungsi kecepatan yang berbeda. Panel ini digunakan untuk memilih fungsi kecepatan yang memberi respon data stack yang maksimum. Sehingga panel ini juga bisa dijadikan sebagai referensi untuk melihat hasil koreksi NMO setelah diterapkan nilai kecepatan dari proses picking velocity. Jika fungsi kecepatan yang digunakan tepat, event seismik primer dalam gather panel akan terlihat datar. Jika kecepatan yang digunakan terlalu rendah, maka event seismik primer dalam gather panel akan melengkung ke atas, sedangkan jika kecepatan yang digunakan terlalu tinggi, maka akan melengkung ke bawah
Panel Dynamic Stack menampilkan pendekatan data stack yang dihitung dengan menggunakan fungsi kecepatan yang telah dipilih. Panel ini digunakan sebagai kontrol kualitas (QC) dari fungsi kecepatan yang dipilih. Keempat panel velocity analysis tersebut digunakan sebagai acuan atau patokan dalam menentukan NMO velocity yang paling tepat untuk digunakan dalam proses stacking.
Hasil akhir dari flow ini adalah suatu penampang post-stack, yang biasa disebut brute stack. Penampang ini, pada dasarnya merupakan penampang post-stack yang pertama kali dihasilkan dari suatu pengolahan data seismik dan disebut sebagai stack kasar (“brute stack”) karena belum mendapat efek-efek lain dari pengolahan data seismik. Selain itu, parameter kecepatan yang digunakan dalam brute stack ini juga belum sepenuhnya tepat. Brute stack ini dihasilkan hanya untuk melihat gambaran awal dari suatu event seismik.

Pre-processing

Proses yang dilakukan pada tahapan pre-processing adalah meliputi:

1. True Amplitude Recovery
Tahapan ini diperlukan untuk memulihkan kembali besaran-besaran amplitudo karena kehilangan energi yang disebabkan oleh hal-hal tersebut di atas agar seolah-olah energi adalah sama pada setiap titik. Adapun proses pemulihan amplitudo ini adalah dengan cara mengaplikasikan nilai koreksi amplitudo konstan dengan nilai koreksi sebesar 1,6 dB/sec.

2. Edit Trace
Prinsip dari proses editing ini adalah membuang atau menghapus sinyal-sinyal yang tidak diinginkan (noise) dalam processing data seismik. Pada tahapan ini, ada dua buah proses editing yang dilakukan, yaitu proses killing trace, dimana pada proses ini dilakukan penghapusan trace-trace yang mengandung noise dalam bentuk 1 dimensi saja (dimensi waktu).
Proses yang kedua adalah muting, dimana pada proses ini dilakukan pembuangan sinyal-sinyal noise yang tidak diinginkan dalam bentuk 2 dimensi. Muting ini biasanya membuang sinyal-sinyal noise yang muncul sebelum first break time. Adapun jenis mute yang dipakai pada proyek ini adalah top mute.
Selain itu, proses muting ini juga dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengecek (QC) hasil dari geometry assignment yang telah dilakukan sebelumnya. Apabila terjadi kesalahan dalam proses geometry assignment, maka hasil plotting dari nilai-nilai mute yang kita berikan akan tidak cocok dengan data. Hal ini terjadi dikarenakan bentangan yang terjadi di lapangan berbeda dengan pattern yang telah kita set sebelumnya pada geometry assignment. Jika terjadi kesalahan semacam ini, maka perlu dilakukan perbaikan ulang pada proses geometri assignment dengan nilai-nilai pattern yang benar.

3. Filtering
Pada prinsipnya, frekuensi sinyal seismik di lapangan mempunyai bandwith yang cukup lebar. Pada projek A5.43 ini bandwith frekuensi yang dihasilkan mempunyai range frekuensi 1 – 250 Hz. Oleh karena itu, dari sekian range bandwith frekuensi yang dihasilkan tersebut, tidak semuanya merupakan data-data sinyal seismik, sebagian merupakan sinyal-sinyal noise. Untuk itu diperlukan suatu proses yang dapat memisahkan range frekuensi antara sinyal sesimik dengan sinyal noise yang biasa dikenal dengan proses Filtering. Band-pass filter adalah metoda yang mudah untuk menekan noise yang ada di luar spektrum frekuensi dari sinyal yang diinginkan.
Adapun filter digital yang dipakai pada projek ini merupakan filter digital bandpas filter dengan range nilai frekuensi 8 – 10 – 40 – 50 (Hz). Nilai parameter ini didapat dari hasil try & error tes parameter di awal pengerjaan.

4. Dekonvolusi
Dekonvolusi dilakukan sepanjang sumbu waktu (time axis) yang bertujuan untuk meningkatkan resolusi temporal dengan mengkompresi wavelet seismik asal sampai mendekati bentuk spike dan meminimalkan reverberasi gelombang. Untuk itulah, maka pada awal pengerjaan dekonvolusi diperlukan suatu time gate dimana di dalam gate tersebut diusahakan tercakup nilai-nalai sinyal to noise rasio yang cukup baik agar dihasilkan operator dekonvolusi yang tepat. Biasanya nilai signal to noise rasio yang masih cukup baik terdapat antara first break time sampai beberapa milisecond di bawahnya, dimana amplitudo sinyal masih dapat terlihat cukup kuat.
Adapun jenis dekonvolusi yang dipakai pada pengolahan data kali ini adalah tipe spike / predictive dekonvolusi, dimana konsep dari metode ini yaitu dengan menggunakan teori filter Wiener yang merupakan sebuah operasi matematik yang menganut azas kuadrat terkecil dalam menjalankan operasinya.

5. Koreksi Statik
Tujuan dari koreksi statik ini adalah untuk menghilangkan pengaruh topografi terhadap sinyal-sinyal seismik yang berasal dari reflektor. Pada flow ini dilakukan perhitungan koreksi statik berdasarkan metode refraksi statik. Sebelum menjalankan refraksi statik, user harus menjalankan subflow apply elevation statics terlebih dahulu untuk menghasilkan harga koreksi statik source dan receiver.
Koreksi statik yang telah telah dihasilkan tersebut akan disimpan di dalam database source dan receiver sebagai koreksi statik ketinggian (elevation statics), yang diperlukan untuk perhitungan koreksi refraksi statik sisa (residual refraction statics).

Data Processing

Pemrosesan data seismik adalah untuk mengolah data hasil perekaman yang merupakan proses awal yang hanya membaca data produksi yang berada di dalam tape dari Labo. Data dari Labo tersebut kemudian diolah menggunakan data koordinat topografi, sehingga menghasilkan data berupa penampang melintang stack yang selanjutnya data ini akan diproses.
Data yang disimpan dalam disket berupa XPS (informasi nomor record, Shot Point, dan active channel), SEG (koordinat trace), SPS (informasi data mengenai uphole, waktu tembak, dan SP), RPS (informasi nomor trace dan koordinat), OBS (data seperti laporan), dan RAW (informasi mengenai kegiatan Labo).
Tahapan awal dalam pemrosesan data adalah pengecekan terhadap data yang terekam dalam cartridge, disket, dan observer report. Setelah itu dilakukan proses geometri yaitu pemberian titik koordinat pada data tersebut. Kemudian dilakukan pengecekan terhadap posisi penembakan.
Setelah data mengalami pengecekan dan sesuai dengan kondisi semestinya, dilakukan tahap preprocessing yaitu proses penyempurnaan data dengan cara true amplitudo recovery dan deconvolution. Tahapan selanjutnya dengan melakukan velocity analysis, NMO, dan terakhir proses brute satck. Penampang brute stack ini menampilkan model struktur lapisan bumi berdasarkan domain waktu.
Ada beberapa contoh peranan topografi terhadap pengolahan data seismik antara lain:

1. Kontrol geometri
Sebagai contoh pemrosesan data memerlukan koordinat berformat SEG untuk penentuan quality control geometri yang akan berpengaruh pada hasil stack (penjumlahan record dari tiap trace yang berada pada CDP yang sama).

2. Koreksi statik
Koreksi statik ini menggunakan elevasi yang diukur oleh topografi. Koreksi ini dilakukan untuk menyamakan datum dari receiver sehingga diperoleh arrival time yang terletak pada satu bidang horizontal yang sama.

3. Plotting final stack
Pada plotting final stack dibutuhkan data crossing line yang berfungsi untuk mengikat antara 2 line yang saling berpotongan. Lebih jauh lagi data crossing line ini dibutuhkan interpreter untuk menginterpretasi awal supaya interpreter dapat melihat penampang seismik baik itu secara inline maupun crossline secara tepat.

Hasil akhir dari pemrosesan data adalah berupa hasil stack yang merupakan gambaran yang berada di bawah permukaan yang terekam oleh receiver dimana noise-noise yang ada sudah difilter, sehingga hasil final stack ini dapat diinterpretasi lebih lanjut oleh interpreter.
Adapun untuk seismik 3D sebelum dilakukan pemrosesan, ada suatu program yang berfungsi sebagai simulasi cakupan program penembakan yang dilakukan dengan menggunakan software Messa. Pada seimik 3D juga tidak boleh ada titik yang hilang atau tidak ditembak, sehingga kalau perlu titik yang hilang tersebut diganti. Aturan penempatan titik pengganti ini disimulasikan oleh Messa untuk mendapatkan lokasi yang optimal, dan tentunya berkoordinasi dengan topo mengenai lokasi di lapangan dari titik tersebut.
Proses data seismik meliputi tahap persiapan data, pre-processing, processing dan post-processing. Perangkat lunak yang dipergunakan adalah:
1. ProMAX 2003 ver. 3,3 (perangkat lunak pengolahan data seismik),
2. SDI (perangkat lunak plotting)
3. GMG Millenium Version 5.4 (perangkat lunak perhitungan Refraction Static).
Sedangkan perangkat keras yang digunakan adalah:
1. Sun Blade 2000
2. Cartridge Drive 3490E
3. Exabyte Drive
4. Oyo Plotter GS-624
5. RAM 4 GB
6. External Harddisk 300 GB
7. Internal Harddisk 73.4 GB
8. PC Pentium IV/1.8 GHz, serta UPS 6 Kva.

Baca Juga:

  • Pre-processing
  • Processing
  • Post-processing
  • Tuesday, July 15, 2008

    Geophone


    Geophone adalah sebuah transducer pergerakan tanah yang sangat sensitif. Sebuah geophone mengubah energi seismik, atau vibrasi, menjadi tegangan listrik yang dapat diukur secara akurat. Ketika terjadi vibrasi yang menyebabkan geophone atau magnet yang berada di dalam geophone bergerak, lilitan akan tetap diam karena kelembamannya. Pergerakan magnet relatif terhadap lilitan ini menimbulkan tegangan listrik yang proporsional terhadap kecepatan relatif lilitan terhadap magnet.

    Penampang bagian dalam geophone

    Geophone bekerja berdasakan hukum Faraday, dimana pada sebuah kumparan akan terjadi arus listrik apabila pada kumparan tersebut terjadi perubahan fluk magnet terhadap waktu. Besarnya tegangan yang terjadi berbanding lurus dengan besarnya perubahan fluk terhadap waktu tersebut.

    Dimana:
    - V = tegangan output
    - ∂Φ = perubahan fluks magnet
    - ∂t = perubahan waktu
    - G = konstanta transducer
    - Ў = pergerakan relatif

    Diagram perubahan getaran menjadi sinyal listrik pada geophone

    Konsumsi Daya LAUL Sercel SN408XL

    Selama akuisisi LAUL mengkonsumsi daya sebesar 3,5 W (0,42 W ketika tidak melakukan akuisisi). Konsumsi FDU (0,15 W untuk satu FDU) dan daya yang hilang pada kabel juga harus diperhitungkan.

    Consumption = 3,5+(N*0,15/0,75)+loss in cables

    - 1,7 W untuk 60 FDU dengan jarak 30 m
    - 1,5 W untuk 48 FDU dengan jarak 55 m
    - 1,2 W untuk 40 FDU dengan jarak 80 m

    Diagram LAUL

    Indikator LED pada LAUL dan LAUX

    Spesifikasi LAUL Sercel SN408XL

    Spesifikasi LAUL adalah:
    1. Kapasitas data 8,192 Mb/s, 1000 channel aktif dengan sample rate 2 ms
    2. Konsumsi daya 3,7 W
    3. Tegangan operasional 10,5 – 15 V DC
    4. Berat 2,4 kg (alumunium), 3,7 kg (stainless)
    5. Jumlah FDU maksimal diantara LAUL:
    - 60 FDU, dengan jarak antar FDU 30 m
    - 48 FDU, dengan jarak antar FDU 55 m
    - 40 FDU, dengan jarak antar FDU 75 m
    6. Kedap air sampai kedalaman 15 m

    Fungsi LAUL Sercel SN408XL

    Beberapa fungsi LAUL antara lain:
    1. Sebagai konektor port pada Line
    2. Menginterpretasikan perintah yang datang dari CM408
    3. Mengontrol FDU pada line
    4. Mengumpulkan data dari FDU
    5. Melakukan Mengoperasikan baterai standar 12 V DC
    6. Memberikan dan mengkontrol power Line, memberikan field test.
    7. Menerima dan mengirim status dan data.
    Line Acquisition Unit Land atau lebih dikenal dengan LAUL ekivalen dengan PSU pada Sercel SN388. LAUL menginterpretasikan perintah yang datang dari CM408, mengkontrol FDU pada sebuah line dan mengumpulkan data dari FDU tersebut. LAUL melakukan decimating, filtering dan compressing data dan mengirim data tersebut ke CM408 melalui LAUX. LAUL juga mensinkronisasi semua sampel dengan time break.

    Monday, July 14, 2008

    Konsumsi Daya LAUX Sercel SN408XL

    Selama akuisisi LAUX mengkonsumsi daya sebesar 5,7 W (0,32 W ketika tidak melakukan akuisisi). Konsumsi FDU (0,15 W untuk satu FDU) dan daya yang hilang pada kabel juga harus diperhitungkan.

    Consumption = 5,7+(N*0,15/0,75)+loss in cables

    - 1,7 W untuk 60 FDU dengan jarak 30 m
    - 1,5 W untuk 48 FDU dengan jarak 55 m
    - 1,2 W untuk 40 FDU dengan jarak 80 m

    Diagram LAUX

    Spesifikasi LAUX Sercel SN408XL

    Spesifikasi LAUX adalah:
    1. Kapasitas data 16,384 Mb/s, 2000 channel aktif dengan sample rate 2 ms
    2. Tegangan operasional 10,5 – 15 V DC
    3. Berat 5,5 kg
    4. Jumlah FDU maksimal diantara LAUX:
    - 60 FDU, dengan jarak antar FDU 30 m
    - 48 FDU, dengan jarak antar FDU 55 m
    - 40 FDU, dengan jarak antar FDU 75 m
    5. Kedap air sampai kedalaman 15 m

    Fungsi LAUX Sercel SN408XL

    Beberapa fungsi LAUX antara lain:
    1. Menginterpretasikan perintah yang dikirim oleh CM408
    2. Mengontrol FDU pada kedua sisi (high line dan low line)
    3. Mengumpulkan, decimates, filter dan mengkompres data sebelum mengirimkannya ke CM408
    4. Mensinkronisasi semua sampel dengan time break
    5. Sebagai konektor port pada Line
    6. Mengoperasikan baterai standar 12 V DC
    7. Memberikan dan mengkontrol power Line, memberikan field test.
    8. Menerima dan mengirim status dan data.